Sabtu, 25 September 2010

NGASAG RIZKI

Pada masa awal berkembangnya Islam, Rosululloh mempromosikan Islam dengan cara direct selling, yakni mendatangi langsung sasaran dakwah. Mula mula Rosululloh mendatangi saudara dari ayahnya seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Tholib, Hamzah, juga sahabatnya Abu Bakar. Rosululloh juga berdakwah pada para jamaah haji yang setiap musim haji mendatangi kota Mekah, diantaranya jamaah haji dari kota Yatsrib. Mereka yang mengikuti ajakan Rosululloh kemudian masuk Islam, secara berantai, bahu membahu dan bersemangat bersama Rosululloh menyebar luaskan ajaran Islam. Dari tangan Abu Bakar, berhasil mengajak sahabatnya Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan para sahabat terkemuka lainnya. Keluhuran budi pekerti Rosululloh sebelum dan sesudah menerima wahyu kenabian, diakui luas oleh masyarakat jahiliyah kota Mekah. Masyarakat kota Mekah memberi gelar Al Amin artinya orang yang dapat dipercaya, jauh sebelum Alloh memberi menurunkan wahyu yang pertama.
Dakwah Rosululloh yang dibantu para sahabat generasi pertama, dilakukan secara jitu dan sistematis. Mula mula yang digarap adalah para sahabatnya sendiri, beliau secara langsung menggembleng mental generasi surgawi ini. Aspek Aqidah, aspek Ibadah, aspek Syariah menjadi fokus pembenahan untuk menjadi pribadi prima yang berakhlaqul qarimah tingkat tinggi. Mereka semua akhli Ibadah, sekaligus akhli berdagang, akhli siasat perang, akhli bahasa, akhli tata pemerintahan, akhli keuangan dan semua keakhlian yang dibutuhkan saat itu ada pada diri para sahabat yang mulia. Sungguh satu hasil olah pendidikan yang sangat berkualitas, dengan out put yang mampu menembus batas wilayah langit dan bumi. Kekuasan Romawi dan Persi bergetar karenanya muncul kekuatan Islam yang diajarkan oleh Rosululloh, dari satu kawasan yang tadinya sama sekali tidak diperhitungkan.
Melakukan promosi untuk mengembangkan bisnis yang kita jalankan, adalah satu keharusan, agar usaha kita makin dikenal calon pelanggan. Bentuk promosi yang kita pilih, menyesuaikan anggaran yang ada, dengan mempertimbangkan efektivitas sasaran yang dituju. Pada masa awal kita mulai merintis bisnis, promosi langsung menjadi hal yang harus dilakukan di setiap kesempatan. Contoh barang, deskripsi layanan, foto barang atau layanan yang kita jual, tidak boleh ketinggalan saat kita pergi kemanapun. Tujuannya satu agar orang mengenal kita mempunyai produk atau layanan yang mungkin suatu saat dibutuhkan pelanggan. Tujuan lain adalah untuk mengetahui tanggapan masyarakat terhadap produk kita. Bila ada penolakan, berarti kita harus menempuh strategi yang lebih jitu, agar barang kita bisa diterima konsumen. Bila konsumen ternyata telah menerima produk kita, kita harus berinovasi lagi agar konsumen tetap memilih produk kita diantara banyak plihan produk sejenis.
Berbisnis juga membutuhkan satu kekuatan ruhiyah yang tangguh, agar mampu mengatasi bermacam rintangan, juga mempersiapkan masa depan secara sistematis. Para enterprener semestinya harus lebih arif dari para pegawai, karena mereka tidak digaji oleh pemberi kerja. Gaji enterprener langsung dijatah oleh gusti Alloh, melalui malaikat pembagi rizki. Karena langsung gajinya dari langit, haram untuk meminta tambahan rizki dari sesama mahluk seperti minta jimat penglaris, teken, tumbal, ngingu tuyul, babi ngepet, suap, korupsi, mark up, minta penglaris ke gunung kawi, monyet ngujang dll. “ Berdo’alah kepadaKu, pasti akan Aku kabulkan do’amu “ begitu janji gusti Alloh. Kewajiban kita yang ngasag rezkinya Alloh melalui jalan berwira usaha adalah memaksimalkan usaha dengan cara cara yang terpuji, terus menerus, tidak kenal lelah dan memaksimalkan kepasrahan kepada gusti Alloh. Karena jatah rizki kita sudah ditakar, tentu kita akan menerima jatah takaran itu. Jangan salah mengartikan jatah takaran ini, karena takaran ini fleksibel, bisa sebesar gelas, termos, ember, gentong, jeding kamar mandi, kolam atau hanya se sloki tonikum bayer, tergantung dari ikhtiar kita. Kalau ikhtiar dan kepasrahan kita maksimal, pasti kita akan memperoleh jatah yang maksimal pula. Begitu pula kalau ikhtiar dan kepasrahan kita hanya sekedarnya, kita juga akan menerima jatah rizki ala kadarnya.
Mancing ikan umpannya selalu kecil, untuk mengharap disantap ikan yang besar. Dalam menjalankan roda bisnis, juga diperlukan upaya mancing datangnya rizki yang besar dengan umpan yang kecil dalam koridor kegiatan yang halal dan thoyib. Kalau memancing pada ranah haram, namanya suap atau riswah, umpannya juga menyesuaikan nilai proyek yang diincar. Ada umpan yang nilainya ratusan juta, agar memancing keluarnya pasal tuduhan korupsi, ada yang umpannya Honda Tiger, agar dapat borongan rehab SD Inpres, ada yang umpannya voucher hotel agar sang kepala kantor mau menempatkan dana di Bank yang ia pimpin. Ada juga mancing dengan umpan beberapa lembar ratusan ribu, agar AO dari BPR tempat ia mengajukan kredit, meluluskan sejumlah permohonannya meskipun tidak layak.
Seringkali kalau kita berbelanja di pasar senggol, warung, minimarket atau bahkan di hipermarket, kita mendapati harga tertera Rp 33.300,00. Di nota kasir benar tertulis Rp 33.300,- tetapi biasanya kita membayar lebih mahal menjadi Rp 33.500,- dengan susuk 2 buah permen kopiko. Tetapi kalau dilain waktu kita berbelanja dengan nominal Rp 35.300,- , kita tidak bisa membayar dengan uang Rp 35.000,- ditambah dengan 3 buah permen kopiko. Hampir pasti kasir akan menolak, meskipun kasir telah melakukan hal yang sama ratusan kali kepada para pembeli. Alangkah baiknya kita melakukan pembulatan ke bawah, menjadi Rp 33.000,- saja. Uang kembalian Rp 200,- tidak berarti apa apa pada konsumen, tetapi cukup mengganjal bila di tukar dengan permen kopiko. Hitung hitung biaya promosi Rp 300,- dikembalikan saja sebagai diskon ke konsumen. Dijamin dengan pancingan itu, konsumen akan datang ke tempat kita lagi dan woro woro dengan yang lainnya.
Kalau sampeyan tinggal di perumahan atau di perkampungan, punya teras ukuran 2 x 5 meter, sedikit dipermak agar bisa untuk cangkrukan atau lesehan, sampeyan bisa ngasag rizki dari sini. Dengan sedikit kerja keras bangun dini hari jam 02.00 an tahajud dulu, lalu pergi ke pasar sayur yang biasa digunakan untuk kulakan bakul. Sementara sampeyan pergi ke pasar untuk beli sayuran, ikan segar atau daging segar, rewang sampeyan adang nasi dan menyiapkan bumbu bumbu sayuran. Sediakan 3 kompor untuk masak sayur, agar ba’da subuh sekitar jam 05.00 an, sayur dan gorengan sudah matang dan siap dijual. Dengan demikian, penghuni perumahan yang hendak pergi bekerja, tidak direpotkan dengan acara memasak, karena tersedia sayur sekaligus nasinya untuk sarapan. Kalau memungkinkan sampeyan juga bisa mborong untuk menyediakan menu makan siangnya dan menerima pesan lewat telpon. Insya Alloh kalau istiqomah menekuni usaha ini, banyak warga yang terbantu, terlebih lagi bila selisih antara masak sendiri dengan membeli di tempat anda tidak jauh. Rewang yang bekerja di tempat anda, karena ini kegiatan produksi, bayarannya juga harus lain dengan rewang rumah tangga biasa, kalau umumnya di komplek gaji rewang Rp 750 ribu, sampeyan harus bayar minimal Rp 1 juta.
Untuk memulai usaha ini, memang membutuhkan adaptasi yang lumayan berat, karena harus bangun dini hari, tapi ini biasanya tidak terlalu lama sudah terbiasa. Perlukan promosi yang jitu, lebih dari sekedar leaflet, misalnya 1 hari menjelang hari pertama buka, seluruh warga RT sampeyan diberi sego brekat, dengan diberi tulisan mohon do’a restu usaha anda. Tidak lupa bu RT tetangga, bu RW kita dan bu RW tetangga juga ikut diberi brekatnya juga. Insya Alloh dalam waktu 1 hari, satu komplek perumahan sudah tahu anda buka warung sayur matang yang mulai buka subuh. Ini berarti anda sudah menabung paling tidak 100 an pembeli potensial. Esok harinya pada saat anda benar benar buka warung, beri kejutan untuk pelanggan pertama, beri dia diskon 50 % dari yang dibeli, yang kedua 25 %, yang ketiga 10 %, selebihnya bayar penuh. Kalau satu hari omsetnya bisa Rp 500 an ribu, satu bulan paling tidak Rp 15 jutaan. Makanan olahan biasanya tingkat keuntungan mencapai 50 %, hitungan kasar keuntungan setiap bulan Rp 7,5 jutaan dikurangi biaya tenaga kerja dan overhead lainnya Rp 2,5 jutaan, sehingga paling tidak 1 bulan ada pendapatan tambahan Rp 5 jutaan. Cukup lumayan, wong namanya juga ngasag, dapatnya tidak sebesar kalau memanen.
Tetapi kalau anda seorang yang bekerja memberi pelayanan public seperti Account officer di Bank, polisi lalu lintas, jaksa, hakim, guru, petugas pajak atau pejabat publik seperti ketua RT, lurah, camat, satpol PP, dll, jangan menjual profesi mulia anda untuk ngasag. Jangan sekali kali berbuat tercela dengan menerima suap, ang pao dari pihak pihak yang seharusnya anda tindak. Apalagi kalau anda sebagai penegak hukum melakukan tindakan memperjual belikan pasal tuntutan pidana, dengan sejumlah uang, itu perbuatan haram dan uang yang anda terima namanya riswah alias suap, bukan hadiah apalagi hibah. Ini ngasag yang haram, anda harus meninggalkan kebiasaan ini. “ Yang disuap dan yang nyuap sama sama masuk neraka “ begitu titah Kanjeng Nabi. Begitu juga kalau antum guru, dengan alasan ngasag rizki, anda memberikan jasa les privat pada murid murid anda dan memperlakukan murid murid anda secara subyektif. Murid murid yang ikut les, diberi latihan soal persis seperti soal ulangan yang akan anda berikan esok hari, sementara yang tidak ikut les di-cing atau diperlakukan diskriminasi untuk menggiring agar semuanya ikut les privat anda, meskipun pelajaran yang anda ampu tidak begitu sulit seperti PPKN atau IPS.

Kamus istilah :
Ngasag : mencari bulir padi sisa panen, tekeb, ngigu tuyul : memelihara tuyul, susuk : kembalian, rewang : pembantu umah tangga, woro woro : memberi tahukan pada orang lain, cangkruan : kongkow kongkow, adang : menanak nasi, di-cing : diancam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar