Sabtu, 03 April 2010

istiqomah

Gusti Alloh lebih menyukai hambaNya yang secara teratur beribadah, baik dengan atau tanpa rangsangan bonus pahala. Sholat malam misalnya, akan lebih baik bila dikerjakan secara rutin, bukan pada saat kita sumpek saja. Pada masa lapangpun sangat dianjurkan agar kita selalu menyempatkan diri melakukannya. Bersedekah meski pada saat tertentu ada masa masa istimewa, alangkah baiknya bila kita melakukannya tidak memandang saat istimewa atau saat saat biasa. Bertadarus Al Qur’anpun demikian, lebih baik dilakukan secara rutin meski hanya satu ruku’ atau satu ayat, dari pada sekali bertadarus dua juz, setelah itu lama sekali tidak melakukan tadarus.

Tidak ada yang salah bila banyak orang pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlon, melakukan ibadah dengan sangat intensif untuk menyongsong Lailatul Qodr. Memang itu anjuran dari kanjeng Rosul junjungan kita, untuk memperbanyak amal sholeh di saat yang istimewa itu. Kalau memang mujur dan Alloh marengake, kita dapat memperoleh keutamaan pahala selama 83 tahun, Subhanalloh. Tetapi secara logika, bonus pahala yang istimewa hanya diberikan untuk orang orang yang ibadahnya juga istimewa. Dia tidak mengejar Lailatul Qodr, karena setiap hari dia yakin Gusti Alloh paring berkah Lailatul Qodr. Dia melakukan shaum sunnah, karena baginya puasa sunnah itu wajib hukumnya, dia juga juga sholat malam, karena sholat malam baginya adalah kewajiban. Dia bertadarus secara rutin karena tadarus baginya adalah kewajiban, dia menjaga silaturrahmi bukan karena pamrih ingin dapat utangan, tetapi karena silaturrahmi baginya adalah suatu kewajiban. Dia bekerja keras untuk mencari nafkah halal bagi keluarganya, karena dia tidak mau ada yang subhat apalagi haram dari daftar rizkinya. Lebih afdol lagi kalau dia punya kesempatan untuk mendapatkan rejeki remang remang atau sekalian haram meskipun berlabel legal, dia tidak mau melakukannya. Kalau modelnya seperti ini, bukan orangnya yang merindukan Lailatul Qodr, tetapi Lailatul Qodrnya yang merindukan orang ini.

Berbisnis apapun jenisnya juga demikian, bila dikelola secara intensif dan terus menerus, kita akan mendapatkan keutamaan menjalankan bisnis. Memang cukup berat untuk beristiqomah dalam berbisnis, apalagi bisnis yang masih tahap perintisan. Tahap ini belum banyak orang yang kenal dengan bisnis kita, pemasukan belum banyak. Jangankan Break Event Point, untuk bayar karyawan saja masih nombok ambil dari modal. Semangat yang tadinya menyala nyala, menghadapi kenyataan ini bisa perlahan padam. Apalagi kalau tadinya ia seorang pegawai dengan gaji besar, kemudian ikut pelatihan motivasi menjadi enterprener, lalu nekad mundur untuk merintis usaha sebagai seorang pengusaha. Terbayang setiap tanggal gajian, angannya menangis karena sekarang tidak ada yang menggaji, tidak ada acara main golf, main tenis, futsal atau olah raganya para profesional lainnya yang dibayari kantor.

Kalau kita lulus tahap ini, pasti perlahan lahan akan terjadi titik balik, pelanggan mulai datang, klien mulai ada dan tentunya omset juga mulai meningkat. Pada tahap perintisan kita berikan servis yang terbaik untuk pelanggan, harga juga kompetitif, akankah pada saat pelanggan mulai datang karena puas dengan layanan kita, kita tetap akan mempertahankannya pelayanan ? Gejala latahisme biasanya tumbuh disini, kwalitas pelayanan menurun, harga atau tarif mulai dinaikkan perlahan. Ada kredo berbahaya yang bisa membonsai bisnis kita “ kalau bisa jual lebih mahal kenapa dijual murah, kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah, kalau kayak gitu saja kansumen sudah mau kenapa harus yang lain “.

Kalau kita bisa melewati tahap ini dengan baik, kita tetap istiqomah dengan pelayanan prima dan harga atau tarif yang kompetitif, bukan berarti godaan sudah berlalu. Ada godaan yang tidak kalah berbahaya, percaya diri yang berlebihan. Dengan alasan usaha yang sedang berkembang, kita menggenjot omset dengan menambah investasi. Kredo ambisi mencapai target omset sekian kali lipat dari sekarang dalam jangka waktu sependek pendeknya, mau tidak mau harus mengambil kredit dari Bank. Kalau jam terbang di bisnis ini sudah lama, ini bagus karena kita sudah mengenal betul fluktuasi pasar. Tetapi kalau kita sebagai pemain baru yang belum paham fluktuasi pasar, ini sangat beresiko. Istilah ndesonya kalau belum melewati 3 Idul Fitri, belum lulus sebagai seorang enterprener. Hampir semua orang mengencangkan ikat pinggang agar pada hari raya nanti mempunyai tabungan yang cukup, masih ditambah dengan THR, arisan atau pemasukan lainnya. Menjelang hari raya semua tabungan dibelanjakan untuk kebutuhan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Idul Fitri, sehingga berjualan apapun laris manis, termasuk jualan kredit bank. Kondisi ini hanya terjadi setahun sekali, dilain waktu ada saat ramai seperti liburan sekolah, tetapi tidak ada yang mengalahkan moment idul fitri. Menghadapi masa masa sepi, butuh keuletan, kesabaran dan kerja keras, agar roda usaha tetap berjalan normal.

Godaan lain yang cukup mengganggu, adalah rasa percaya diri untuk ekspansi usaha bidang yang sama sekali baru, karena usaha yang dirintis sebelumnya sudah bisa jalan. Tidak haram, juga tidak subhat, sah sah saja untuk mencoba dengan satu pertimbangan, diversifikasi usaha ini tidak mengganggu core bisnis yang ada. Kalau sampeyan mulai buka usaha jualan bakso dengan 1 gerobak, tetaplah istiqomah berjualan bakso. Artinya jangan keburu ganti jualan martabak, kalau dalam satu dua minggu omset belum juga meningkat. Tetaplah istiqomah dengan baksonya, misalnya hari itu tidak habis terjual, cobalah berikan pada tetangga kiri kanan anda. Besoknya bila satu adonan juga ndak habis, cobalah berikan pada anak yatim disekitar anda, asal pemberian ini bukan karena ngincar mbok rondo ibunya anak yatim. Hari ketiga belum juga satu adonan semuanya habis terjual, cobalah bawa ke panti asuhan, dijamin pasti habis. Ini berarti gusti Alloh sangat sayang pada kita, coba kalau langsung di kasih laris, sampeyan belum tentu punya kesempatan bersedekah dengan bakso. Disamping sebagai upaya membuka pintu rejeki yang ada di langit, pintu rejeki dari kantong pelanggan juga perlu dibuka, dengan selalu istiqomah berinovasi.

Bentuk bakso umumya hanya bulat sebesar bola bekel atau bakso jumbo sebesar bola tenis, cobalah membuat bakso kubus, empat persegi panjang, jajaran genjang, segi tiga sama kaki atau bentuk spong bob. Cobalah membuat inovasi harga, kalau kebanyakan pengusaha menaikkan harga bila permintaan meningkat, sampeyan coba menurunkan harga saat permintaan meningkat, dijamin Insya Alloh permintaan terus meningkat. Yang tidak boleh sampeyan lakukan adalah berhenti istiqomahnya, kalau sebelum laris rajin subuhan di masjid baru buka warung, setelah warungnya laris buka warung dulu baru subuhan dengan gelar al bukhri, subuhane keri. Kalau sebelum laris rajin kasih tetangga kiri kanan, rajin ngasih ke panti asuhan, rajin ngasih ke anak yatim, setelah jualannya laris justru tambah pelit, tidak pernah ngasih ke mereka lagi. Kalau sebelum laris rasa bumbunya gurih alami, setelah laris rasa bumbunya ganti rasa kimiawi msg. Kalau dulu rajin kasih diskon, justru setelah laris ndak ada diskon diskonan lagi, wong ndak didiskon saja sudah laris. Kalau sampeyan mentolo melakukan ini, dijamin usaha anda akan jalan ditempat, orang yang datang tidak mbalik lagi dan bisnis kita akan gersang, tidak bernilai manfaat apapun. Na’udzubillah.

Kamus istilah

Marengake : mengijinkan, meridloi, sampeyan : anda, mbok rondo : janda, subuhane keri : sholat subuhnya terlambat, mentolo : tega

Tidak ada komentar:

Posting Komentar