Sabtu, 03 April 2010

Jangan Bakhil

Salah satu kebiasaan Rosululloh adalah selalu menjaga silaturrahmi dengan para sahabatnya, para kerabat dekat maupun kerabat jauh. Beliau sama sekali tidak turun gengsi mengunjungi rumah sahabat Abu Bakar atau sahabat Umar, karena beliau bukan raja. Salah satu sebab tatanan masyarakat Madinah menjadi begitu solid, karena eratnya tali silaturrahmi antara kaum Ansor dan kaum Muhajirin, dengan bimbingan langsung dari kanjeng Nabi. Bahkan ketika kaum Muhajirin baru tiba dari Mekah karena perintah berhijrah, Rosululloh mempersaudarakan para keluarga kaum Ansor dan Kaum Muhajirin. Adalah Abdurrahman bin Auf, seorang bangsawan dan pedagang kaya dari Mekah, karena perintah berhijrah, dia tinggalkan semua miliknya di Mekah. Di Madinah oleh Rosululloh dia dipersaudarakan dengan Sa’ad ibnu Arrabil Allausari, seorang yang kaya raya di Madinah. Sa’ad menawari Abdurrahman bin ‘Auf separoh kekayaannya, tetapi dia menolak. Dia lebih suka ditunjukkan dimana letak pasar yang ramai di kunjungi para pembeli, yakni pasar bani Qoinuqaa.

Setelah mempelajari seluk beluk perdagangan di pasar itu, termasuk ikut berdagang keju dan minyak samin, dia menemukan fakta bahwa pasar itu dikuasai oleh orang Yahudi. Para pedagang disana sangat bergantung pada si Yahudi karena tidak ada pilihan lain. Mulailah dia mencari jalan keluar untuk membebaskan para pedagang dari cengkeraman si Yahudi. Ternyata di dekat pasar itu ada tanah kosong yang dapat dijadikan lokasi pasar alternatif. Dengan bantuan Sa’ad, tanah itu dibelinya dan mulailah dibangun pasar. Dia tidak mematok biaya sewa, tetapi menerapkan sistem bagi hasil atas petak pasar yang ditempati. Sebagian besar pedagang akhirnya pindah ke pasar itu, karena lebih profesional pengelolaanya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Abdurrahman bin ‘Auf berhasil mengembangkan usahanya, sehingga menjadi salah seorang yang kaya raya. Tetapi kekayaannya tidak membuat dia kesengsem harta, justru sebagian besar hartanya dia sumbangkan untuk membiayai dakwah Rosululloh, termasuk membiayai tentara yang jihad fi sabilillah dan menyantuni mereka yang ber herhak

Abdurrahman bin ‘Auf sadar betul, sumbangan beliau yang diserahkan kepada Rosululoh bukan gratifikasi dalam rangka mendapatkan proyek, atau agar membuat decak kagum orang orang, tetapi infaq beliau secara tulus tanpa mengharap apapun kecuali ridloNya. Beliau dengan inisiatifnya sendiri, memberi santunan pada para veteran perang badar, beliau setiap juga menyantuni janda janda Rosululloh. Pernah pada suatu hari pasca meninggalnya Rosululloh, kota Madinah hiruk pikuk kedatangan satu kafilah dagang yang terdiri dari ratusan unta yang penuh barang dagangan. Ummul Mukminin Aisyah bertanya pada para pembantunya “ kafilah dagang milik siapakah itu ? “. “Oh itu milik Abdulrahman bin ‘Auf “ kata pembantunya. “ Maha suci Alloh yang telah melimpahkan hartanya dan menjaganya dari sifat kikir “ kata Sayyidah ‘Aisyah “ Saya dengar Rosululloh berkata “ Abdurrahman bin ‘Auf akan memasuki surga dengan merangkak “ kata Sayyidah Aisyah melanjutkan. Kabar itupun sampai juga pada Abdurrahman bin ‘Auf, beliau mendatangi Sayyidah ‘Aisyah untuk menanyakan kebenaran berita itu. “ Betul, Rosulloh pernah menyampaikan hal itu, anda akan akan masuk surga dengan merangkak “ kata Sayyidah ‘Aisyah menjawab pertanyaan dari Abdurrahman bin ‘Auf. “ Kalau begitu, saksikanlah wahai Ummul Mukminin, aku serahkan seluruh unta dalam kafilah tersebut beserta barang yang ada punggungnya untuk kepentingan jihad fi sabilillah “.

Kredo pada teori ekonomi sekuler mengajarkan dengan modal sekecil kecilnya harus mendapat hasil yang sebesar besarnya, melahirkan aneka macam keruwetan dalam dunia bisnis. Orang akan menghalalkan segala cara, menekan cost serendah rendahnya, demi mendapatkan hasil sebanyak banyaknya. Tidak ada kamus haram dalam bisnis mereka, karena haram hanya dikenal kalau bisnisnya rugi atau tidak mencapai target. Bisnis plan menjadi kitab sucinya, sedangkan Rencana Kerja Tahunan dan break down bulanan menjadi tafsirnya. Budget promosi yang besar menjadi amal sholehnya, target penjualan menjadi pahalanya. CEO yang sukses membangun gurita bisnis seperti Bill Gates, Lim Swie Liong, Eka Cipta Wijaya, menjadi Aulianya bisnis.

Menjalankan roda usaha tidak ubahnya kita menjalankan roda rumah tangga, ada arah yang jelas yang ingin dicapai, yakni keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Rumah tangga usahapun selalu menginginkan bisnis yang sakinah, bisnis yang mawaddah dan bisnis yang warohmah. Kalau kita punya warung kelontong di kampung, agar warungnya sakinah kita wajib menetapkan harga yang wajar agar pembeli tidak suka ngutang, tidak nutuk pada pembeli baru, memberi diskon atau hadiah untuk pembelian jumlah tertentu. Sakinah yang lain memberi salam misalnya monggo setiap pembeli datang, mengajak berbicara pembeli dengan bahasa setempat, kalau di Jawa dengan bahasa Jawa Kromo sedang bukan ngoko. Jangan karena ingin ramah, pada setiap pembeli diajak ngomong pakai bahasa Indonesia yang kaku, seperti pak Camat memberi pengarahan pak Lurah. Misalnya sampeyan punya sisa mangkok atau piring promosi, ndak usah pelit untuk memberi hadiah pada pelanggan. Kalau nota pembelian pelanggan habisnya Rp 74.500,- alangkah baiknya pelanggan cukup bayar Rp 74.000,- saja, jangan membayar sejumlah Rp 75.000,- dengan susuk 5 buah permen kopiko. Bila sangat terpaksa tidak punya uang recehan untuk susuk, mintalah izin untuk disusuki premen. Usahakan tidak lupa mengucapkan terima kasih atas pembelian yang dilakukan dan minta maaf kalau pelayanannya agak lama karena harus antri.

Hitung menghitung dalam mengelola bisnis adalah wajib ‘ain, karena dengan mengitung kita menjadi tahu posisi bisnis kita, lebih maju, stagnan atau mengalami kemunduran. Tetapi hitung menghitung itu bukan berarti kita harus menjadi pelit, justru kita harus lebih penaan. Bila semua barang harus sesuai bandrol harga, sediakan bajet promosi ala kadarnya seperti sauvenir atau kalau perlu diskon. Tetapi bila sampeyan sendiri yang menentukan kebijakan harga, akan lebih leluasa untuk menjadi penaan. Kalau sampeyan punya usaha jualan mie goreng, ayam goreng atau yang sejenis, bila ada konsumen membeli 7 porsi, tidak ada salahnya diberi imbuh 1 porsi dan harga per porsinya ndak usah dinaikkan. Dari segi kesempatan jangka pendek ini eman eman, la wong satu porsi sudah ketok harganya, kok ini cuma digratiskan. Begitu juga kalau ada pembeli yang baru pertama kali datang ke warung kita, jangan sekali kali aji mumpung dengan menaikkan harga sakpenake dewe atau lebih mahal dari harga sesungguhnya. Dari segi promosi jangka panjang, ini akan mengundang pembeli datang lagi melakukan pembelian serupa dan dijamin akan ngomong ke yang lain.

Kalau antum dokter spesialis anyaran, jangan kereng seperti malaikat pencabut nyawa, setiap pasien mengeluh sakit, ditakut takuti dengan bahasa medis, disuruh membeli resep dengan obat yang sebenarnya tidak diperlukan dari merk sponsor. Repotnya lagi kalau ujung ujungnya disuruh operasi dan punya anggapan pasien adalah sapi perah, untuk menutup biaya ambil spesialis antum agar segera balik modal. Padahal mungkin ada cara lain, didengarkan keluhannya, disuruh periksa laboratorium, disuruh nebus resep sambil dinasehati supaya ibadahnya lebih rajin, diajak doa bareng bareng dan diajak baca al fatihah bareng bareng. Bila tidak ada jalan lain selain operasi, alangkah baiknya bila disampaikan dengan cara yang santun, dimengerti orang awam, dijelaskan efek sampingnya, jangan memastikan keberhasilan dan kegalannya sekian persen karena itu hak Alloh, juga biaya biayanya pra sampai pasca operasi. Boleh jadi antum sangat sibuk karena jadwal praktek di berbagai tempat, tidak ada salahnya mengangkat asisten mahasiswa yang sedang co-as, khusus untuk mendengarkan keluhan pasien. Syukur syukur antum bersedia meluangkan waktu, sesekali tilpon mantan pasien menanyakan perkembangan kesehatannya, kalau tidak sempat, asisten antum diwajibkan untuk memonitor perkembangan kesehatan pasien dan melaporkan pada anda. Lebih afdol lagi asisten diminta mengunjungi pasien yang baru anda operasi. Kalau di setiap kota besar ada beberapa dokter spesialis yang bertindak tidak lazim seperti ini, dijamin jumlah pasiennya akan membludak dan pasien yang berobat ke Singapura akan turun drastis. Syukur syukur kalau tarifnya tidak terlalu mahal, karena tarif berapapun yang dikenakan pada pasien, tidak akan ditawar. Dokter spesialias yang tidak materialis seperti ini, dijamin rizkinya lebih berkah dan lebih banyak, dibanding dengan yang materialis, yang hobinya menakut nakuti pasien, tukang memberi resep dari pabrik obat spansornya dan perangainya seperti malaikat pencabut nyawa.

Seorang dokter dan dokter spesialis, keluhan yang paling banyak dilontarkan adalah belum punya pasien pada saat mulai buka praktek sendiri. Mereka meyakini kalau sudah lama praktek pasti akan dikenal dan punya banyak pasien. Sebenarnya ini kurang tepat, keluhan itu timbul karena ada sifat bakhil sebagai seorang dokter yang telah mengeluarkan biaya sangat mahal untuk bisa jadi dokter atau dokter spesialis. Cobalah lakukan langkah yang terbalik, tanamlah investasi yang hanya Alloh yang sanggup membayar devidennya. 2 bulan pertama sejak anda buka praktek, gratiskan semua jasa layanan, umumkan layanan cuma cuma anda di depan tempat praktek anda. Kalau yang datang ke tempat praktek anda selama 2 bulan 500 orang, anda sudah mempunyai pasien potensial 500 orang, ditambah orang lain yang diberi tahu oleh ke 500 orang ini. Bulan ke 3 saat anda mulai menarik bayaran pada pasien, biarlah pasien sendiri yang menghargai jasa layanan anda, artinya dikasih Rp 50 ribu, Rp 100 ribu atau Rp 200 ribu, diterima saja. Insya Alloh rizki anda sangat berkah dan dalam waktu 5 tahun saya yakin anda sudah punya Rumah Sakit sendiri. Logikanya setiap pasien yang anda tolong pasti akan berterima kasih dan pasti akan mendoakan kesuksesan anda, bukan sebaliknya ngrundel dan menyumpahi anda, karena tarifnya mahal, pelayanannya kayak polisi menginterogasi maling. Satu dari ke 500 orang ini, pasti ada yang doanya diijabahi gusti Alloh. Nah kalau lebih dari satu yang do’anya diijabahi, tidak ada alasan gusti Alloh menolak atau menunda terkabulnya do’a mereka. Jangan lupa dengan pendapatan berapapun, paksakan untuk mengeluarkan hak orang lain sebesar minimal 2,5 % nya, karena itu bukan hak kita. Dengan pendapatan baru Rp 10 juta, tidak terasa bila harus dikeluarkan zakatnya sebesar Rp 250.000,- . Tetapi kalau pendapatan kita satu bulannya Rp 300 juta, tentu cukup eman eman bila harus dikeluarkan zakatnya sebesar Rp 7.5 juta. Bukalah pintu rizki yang dilangit dengan membuang sifat bakhil, kikir, medhit, ijir dan sejenisnya, agar pintu rizki yang di bumi juga ikut terbuka. Sukron

Kamus istilah

nutuk : mematok harga lebih tinggi yang tidak sewajarnya,

monggo : silahkan ,

penaan :gampangan/ menyederhakan urusan,

ketok : jelas,

imbuh : tambahan/ gratisan,

eman eman : sayang,

sakpenake dewe : semau gue,

antum : sampeyan,

anyaran : baru,

ngrundel : menggerutu,

medhit : pelit,

ijir : perhitungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar